Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah




Скачать 83.55 Kb.
НазваниеFungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah
страница1/3
Дата конвертации16.05.2013
Размер83.55 Kb.
ТипДокументы
  1   2   3
FUNGSI DAN PERAN TERNAK DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT TANA TORAJA SEBAGAI ASET BUDAYA DAN PLASMANUTFAH


ARTIKEL ILMIAH


OLEH :

MOCHAMAD ALI MAULUDIN

NIP. 19810129 200501 1001





FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

2010 KATA PENGANTAR


Bismillahirrohmanirrohim

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga penulisan “Artikel Ilmiah” yang berjudul “Perspektif Sosiologis mengenai Peran dan Fungsi Ternak dalam Kehidupan Masyarakat Tana Toraja sebagai Aset Budaya dan Plasmanutfah, dapat diselesaikan dengan baik.

Dalam tulisan karya ilmiah ini, penulis mencoba memaparkan dalam perspektif sosiologi bahwa budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat tidak terlepas dari lingkungan dan mahluk hidup lainnya terutama ternak. Kegiatan tradisi Rambu Solo atau tradisi pesta adat kematian di Tana Toraja tidak terlepas dari fungsi dan peran ternak dalam ritual atau pesta tersebut. Keberadaan ternak dalam masyarakat membrikan tempat untuk dikembangbiakan dan juga menjada plasmanutfah sebagai aset masa depan.

Penulis merasa apabila tulisan ini jauh dari kesempurnaan. Namun demikian, semoga tulisan ini masih tetap bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis dan bagi mereka yang memerlukannya.


Bandung, 15 September 2010


Penulis

DAFTAR ISI


BAB Halaman

KATA PENGANTAR ………………………………………………….. i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………. ii


I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ………………………………………………. 1

1.2. Identifikasi Masalah ………………………………………… 3

1.3. Maksud dan Tujuan …………………………………………. 3


II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Kebudayaan …………………………….................... 5

2.1.1. Unsur-unsur Kebudayaan …………………………. 6

2.1.2. Sifat Hakikat Kebudayaan …………......................... 6

2.2. Deskripsi Kerbau …..………………………………………... 7


III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Asal Usul dan Perkembangan Suku Toraja …………………. 9

3.2. Kebudayaan Rambo Solo……………………………………. 11

3.2.1. Proses Pelaksanaan ……………………………….. 12

3.2.2. Dinamika Penyelenggaraan ……………………….. 15

3.3. Fungsi dan Peran Ternak ……………………………………. 17

3.3.1. Menakar Nilai Kerbau ……………………………... 19

3.4. Pelestarian Budaya dan Plasmanutfah Kerbau ……………… 22


IV KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan …………………………………………………... 25


DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….. 26





BAB I

PENDAHULUAN


    1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beraneka ragam corak kebudayaan dengan latar belakang sejarah, asal usul yang berbeda-beda. Hal tersebut terlihat jelas dari keunikan adat- istiadat yang menjadi identitas dan kebanggaan masing-masing daerah. Meskipun saat ini pengaruh globalisasi dan westernisasi mengancam exisitas dari adat istiadat tersebut, namun di beberapa daerah, masyarakat masih mempertahankan dan berpegang teguh atas nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Salah satu adat budaya yang mencerminkan kekuatan hubungan manusia terhadap alam semesta dan sesamanya adalah acara Rambu Solo’. Rambu solo’ merupakan salah satu bukti warisan budaya yang masih dipertahankan hingga detik ini oleh masyarakat Tana Toraja. Rambu Solo’ atau yang dikenal sebagai pesta adat kematian, bertujuan untuk menghormati para leluhur mereka dan untuk mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh.

Upacara kematian ini, berbeda dengan upacara-upacara kematian biasanya. Upacara kematian Rambu Solo' ini diadakan dengan sangat meriah dan mewah layaknya sebuah pesta. Namun upacara kematian ini tidak sedikitpun melambangkan upacara kematian tetapi lebih berupa pesta perayaan. Karena itu upacara kematian ini sering disebut pesta kematian. Mereka meyakini bahwa dengan mengadakan upacara adat ini roh si mati dapat diiring sampai mencapai Nirwana keabadian

Pada upacara kematian ini penggunaan simbol-simbol sangat berperan penting, salah satunya adalah penggunaan simbol kerbau sebagai syarat utama dalam upacara kematian Rambu Solo. Rambu Solo adalah upacara kematian untuk menghormati orang tua yang telah mati sebagai pertanda hormat pada si mati atas jasa-jasa semasa hidupnya. Sama seperti adat-adat daerah lain yang menggunakan simbol sebagai perlambang atau tanda dalam suatu upacara adat. Begitu juga masyarakat tanah Toraja yang menggunakan simbol kerbau sebagai tanda mereka. Mereka meyakini bahwa kerbau inilah yang nantinya akan membawa roh si mati menuju nirwana alam baka ( roh si mati menunggangi kerbau). Kerbau di keseharian kehidupan masyarakat Toraja merupakan hewan yang sangat tinggi maknanya dan dianggap suci juga melambangkan tingkat kemakmuran seseorang jika memilikinya karena harga satu ekor kerbau bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Keseharian masyarakat Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tak bisa dipisahkan dengan hewan ternak kerbau. Ini berlangsung hingga sekarang. Bahkan, sebelum uang dijadikan alat penukaran transaksi modern, hewan bertanduk ini sudah kerap ditukar dengan benda lain. Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, hewan bertubuh tambun ini juga melambangkan kesejahteraan sekaligus menandakan tingkat kekayaan dan status sosial pemiliknya di mata masyarakat.

Kerbau Tana Toraja memiliki ciri fisik yang khas ketimbang daerah lain, terutama pada warna kulitnya yang belang menyerupai sapi. Orang Toraja biasa menyebut jenis kerbau ini Tedong Bonga. Lantaran kulitnya yang aneh, maka kerbau belang memiliki arti penting dalam setiap ritual pesta kematian atau Rambu Solo. Kerbau ini diperlakukan secara khusus. Semenjak kecil sudah dikebiri oleh pemiliknya sehingga dianggap suci sebagai hewan kurban pada upacara Rambu Solo`. Berdasarkan latarbelakang di atas maka kiranya kita lebih memahami dari pesta kematian Rambo solo dan peranan perangkat yang mendukungnnya.


    1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja

  2. Bagaimana tradisi Rambu Solo sebagai aset kebudayaan bangsa

  3. Bagaimana upaya untuk melestarikan budaya dan plasmanutfah kerbau di kehidupan masyarakat Tana Toraja




    1. Maksud dan Tujuan

Berdasarkan identifikasi masalah maka maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk Mengetahui fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja

  2. Untuk mengetahui tradisi Rambu Solo sebagai aset kebudayaan bangsa

  3. Untuk mengetahui upaya untuk melestarikan budaya dan plasmanutfah kerbau di kehidupan masyarakat Tana Toraja



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Kebudayaan

Kebudayan berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayan. Malinowski dalam Soekanto (2005) mengemukakan bahwa Culural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat. Kemudian Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang super-organic, karena kebudyaan yang berturun-temurun dari generasi ke generasi tetap hidup terus, walaupun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran.

Tylor dalam Soekanto (2005) mendefinisikan kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, huku, adat-itiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi dalam Soekanto (2005) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh untuk manusia. Rasa meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Sedangkan cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup bermasyarakat. Semua karya, rasa, dan cipta dikuasai oleh karsa orang-orang yang menentukan kegunaannya agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar atau dengan seluruh masyarakat.


2.1.1 Unsur- unsur Kebudayaan

Kluckhon dalam Soekanto (2005) menyebutkan dalam karyanya yang berjudul Universal Catagories of Culture menunjukan ada tujuh poin dalam unsure-unsur kebudayaan yaitu :

  1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi transport dan sebagaimnya)

  2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem ditribusi dan sebagainya)

  3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sitem perkawinan)

  4. Bahasa (lisan maupun tulisan)

  5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya)

  6. Sistem pengetahuan

  7. Religi (sistem kepercayaan)


2.1.2 Sifat Hakikat Kebudayaan

Masyarakat mempunyai kebudayaan yang saling berbeda satu dengan lainnnya, kebudayaan mempunyai sifat hakikat yang berlaku umum bagi semua kebudayaan dimana pun juga. Soekanto (2005) menyebutkan sifat dan hakikat kebudayaan antara lain :

  1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia

  2. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan

  3. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya

  4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan yang dizinkan.



2.2 Deskripsi Kerbau

Kerbau dan sapi merupakan kerabat dekat, namun berlainan family. Dalam bahasa biologi kerbau termasuk famili Buballus, sedangkan sapi tergolong Bovina, sehingga kedua famili ini tidak dapat dikawinkan untuk menghasilkan keturunan. El Nahas et al.(2001) menyatakan perbedaan utama antara kerbau dengan sapi terletak pada jumlah kromosom yang dimiliki kedua famili tersebut, kromosom diploid (2n) pada kerbau lumpur berjumlah 48, sedangkan pada sapi berjumlah 60.

Mahadevan (1992) menyatakan kerbau di Dunia dibagi dalam dua kelas yaitu kerbau Afrika (Syncerus) dan kerbau Asia (Bubalus). Kerbau Asia mempunyai 3 Spesies yakni B. Depresionis(Anoa), B. Mindorensisi (Tamaraw), dan B. Arne (Kerbau India), sedangkan kerbau Afrika terdiri dari satu spesies yaitu Syncerus Caffer.

Kerbau mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan sapi, karena ternak ini mampu hidup di kawasan yang relative ‘sulit’ terutama bila pakan yang tersedia berkualitas rendah. Kerbau dapat berkembang baik dalam rentang kondisi agroekosistem yang sangat luas dari daerah dengan kondisi basah sampai kondisi kering (Diwyanto dan Hardimirawan, 2006).

Hardjosubroto (2006) mengemukakan bahwa diantara kerbau rawa di Indonesia, sebagai akibat pengaruh lingkungan nampaknya telah terjadi semacam evolusi sehingga timbul semacam sub grup kerbau, seperti : 1) timbulnya kerbau-kerbau yang berbadan besar dan kerbau-kerbau yang berbadan kecil, 2) perbedaan terhadap daya tahan terhadap panas, 3) kegemaran hidup di dalam air, atau berkubang. Melihat kemampuan adaptasi kerbau tersebut pengembangan dan penyebaran kerbau dapat dilakukan di banyak daerah di Indonesia dengan memperhatikan jenis kerbau dan daya adaptasinya.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Asal Usul dan Perkembangan Suku Toraja

Bentuk Pulau Sulawesi memilki empat semenanjung yang disebabkan oleh deretan pegunungan yang membujur ke empat jurusan dari pusat pulai tersebut. Semenanjung selatan secara geigrafis terdiri dari suatu rangkaian gunung berapi yang sudah mati yang dikelilingi oleh daratan-daratan sepanjang pantai. Gunung yang tertinggi kurang lebih 3000 m dan jarak antara garis pantai dan timur kira-kira 150 KM. Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 650.000 jiwa, dengan 450.000 diantaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja. Kata Toraja dibentuk dari dua kata yang berasal dari bahasa daerah, yaitu To yang berarti orang dan Ri Aja berarti dari gunung.

Berdasarkan mitologi, orang Toraja meyakini bahwa mereka berasal dari 2 (dua) nenek moyang yaitu To Lembang dan To Manurung. To Lembang artinya orang perahu yaitu orang yang datang dengan menggunakan perahu lalu berkembang dan beranakpinak di daerah Toraja, sedangkan To Manurung artinya orang yang diturunkan dari langit untuk mengatur tata kehidupan To Lembang yaitu digunakan sebagai pengganti kata Desa meskipun pada prinsipnya aturan-aturan yang berlaku di Lembang sama persis dengan tata pemerintahan yang berlaku untuk Desa (Hetty Nooy-Palm dalam Hans J.Daeng, 2000). To Manurung kemudian menikah dengan seorang Dewi Air (Sundiwai) yang melahirkan anak bernama Padada. Dari sinilah asal usul kelas bangsawan Toraja muncul dan melahirkan berbagai adat istiadat, termasuk Rambu Solo’.

Sistem orang Toraja didominasi oleh kelompok kekerabatan yang disebut Marapuan atau Parapuan yang berorientasi kepada satu kakek moyang pendiri Tongkonan, yaitu rumah komunal sekaligus menjadi pusat kekerabatan dan kehidupan sosial serta religi para anggotanya. Kelompok Marapuan terdiri atas kerabat dari 3-5 generasi. Karena orang Toraja menganut pola kekerabatan yang bilateral sifatnya, maka seseorang bisa menjadi anggota dari beberapa buah Tongkonan.

Sebelum abad ke-20, suku Toraja belum tersentuh oleh dunia luar sehingga masih menganut kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo yaitu Kepercayaan yang disertai dengan perilaku-perilaku tertentu. Misalnya ; seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, maka pantang baginya untuk makan nasi dan lauk pauk (hanya makanan tertentu yang boleh) hingga suaminya dipestakan. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma. Baik mereka yang masih memegang kepercayaan animisme maupun telah memiliki keyakinan beragama, ada prinsip dasar yang masih dipegang teguh untuk mengatur tata kehidupan (hubungan antar sesama manusia) orang Toraja yaitu prinsip penggarontosan ; Misa Ada Dipotuo Pantan Kada Dipomate (Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Mati), Sipakaele-Disirapai (Saling Menghargai dan Musyawarah) serta Hidup Bagaikan Ikan Masapi (Hidup Bersama Bagaikan Ikan dan Air yang Saling Membutuhkan) merupakan semboyan hidup orang Toraja yang mencerminkan hubungan antar sesama manusia yang harus dijunjung tinggi.

Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan menyebarkan agama Kristen. Mayoritas suku Toraja kini telah memeluk agama Kristen (Protestan, Katolik & Advent), sementara sebagian menganut Islam dan sebagian kecil lagi masih tetap pada kepercayaan animismenya. Sejak tahun 1990-an itulah masyarakat Toraja mengalami transformasi budaya yang ditandai dengan pergeseran mata pencaharian dari bercocok tanam (hortikultura) sederhana menuju agraris lalu berkembang ke sektor pariwisata yang terus meningkat dari masa ke masa.

  1   2   3

Добавить документ в свой блог или на сайт

Похожие:

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah iconPengaruh materialistis dan individualistis terhadap partisipasi masyarakat dalam kegiatan gotong

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah iconOrganisasi dan Tata Kerja Kedudukan, Tugas, dan Fungsi

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah iconPluralisasi dalam kehidupan masyarakat multikultur di indonesia

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah iconKurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah iconPengertian dan Fungsi Department Housekeeping

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah iconPerbandingan beta saham syariah dan beta saham non syariah dalam analisa ekonomi makro, industri dan karakteristik perusahaan ardi hamzah simposium Riset Ekonomi II surabaya, 23-24 November 2005

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah iconZeinetan erakusten dan, zetarako dan Lora-sorta santu au

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah iconSebelum terbentuknya hukum positif ditengah masyarakat,hukum adat menjadi hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Hukum adat dikemukakan pertama kali oleh

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah icon11am to noon Stephi Varjan 5th Dan Nishio Aikido 5th Dan Nishio Weapons. 6th Dan Toho Iai Nishio Aikido noon to 1pm

Fungsi dan peran ternak dalam kehidupan masyarakat tana toraja sebagai aset budaya dan plasmanutfah icon2 bumi belum mempunyai bentuk dan kosong; kegelapan menguasai samudera raya dan Roh Allah melayang-layang di atas per­mukaan air. 3

Разместите кнопку на своём сайте:
kk.convdocs.org



База данных защищена авторским правом ©kk.convdocs.org 2012
обратиться к администрации
kk.convdocs.org
Главная страница